Hubungan Tutupan Karang Terhadap Kelimpahan Ikan Karang Menggunakan Metode LIT (Line Intercept Transect) di Keude Bungkaih, Aceh Utara

Authors

  • Cut MeurahNur 'Akla Ilmu Kelautan Universitas Malikussaleh
  • Erlangga Erlangga Ilmu Kelautan Universitas Malikussaleh
  • rini tri lestari sembiring Ilmu Kelautan Universitas Malikussaleh
  • erniati erniati Ilmu Kelautan Universitas Malikussaleh
  • imanullah imanullah Ilmu Kelautan Universitas Malikussaleh

DOI:

https://doi.org/10.15578/jkn.v17i3.10985

Keywords:

Tutupan Karang, Ikan karang, Kelimpahan, Bungkaih, Aceh Utara

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat penting bagi wilayah pesisir. Ekosistem terumbu karang memiliki peran sebagai tempat tinggal, tempat mencari makan, tempat berlindung dan tempat berkembangbiak bagi biota ikan karang. Ikan karang pada umumnya lebih banyak ditemukan pada ekosistem terumbu karang yang masih dalam kondisi baik. Keude Bungkaih merupakan salah satu wilayah di pesisir Aceh Utara yang memiliki ekosistem terumbu karang di perairan lautnya. Berdasarkan informasi yang peneliti dapatkan dari nelayan yang sering menangkap ikan dan penyelam yang sering menyelam di Perairan Keude Bungkaih, bahwasanya terdapat ekosistem terumbu karang yang cukup luas, namun belum ada data secara akurat perihal persentase tutupan karang di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tutupan karang hidup terhadap kelimpahan ikan karang yang meliputi tutupan karang dan struktur komunitas ikan karang di perairan Keude Bungkaih, Aceh Utara pada bulan Desember 2021. Metode yang digunakan untuk pengambilan data tutupan karang yaitu LIT (Line Intercept Transect) dan data ikan karang yaitu visual sensus pada kedalaman 3 m dan 6 m. Untuk mengetahui hubungan tutupan karang terhadap kelimpahan ikan karang menggunakan persamaan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil pengamatan tutupan karang hidup yang paling baik berada pada stasiun II yaitu 44.68% dengan kategori sedang. Kelimpahan ikan karang paling banyak terdapat pada stasiun II dengan nilai 14320 Ind/ha. Nilai indeks keanekaragaman (H’) tertinggi 2.58, Keseragaman (E) 0.81 dan Dominansi 0.25. Hasil analisis regresi linear diperoleh nilai sebesar 0.34 pada stasiun I dan 0.43 pada stasiun menunjukkan kategori hubungan yang cukup.

References

Barus, T. A. (2004). Pengantar Limnologi: Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. Medan, Indonesia: USU Press.

Bengen, D. G. (2000). Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. Bogor, Indonesia: Institut Pertanian Bogor.

Brojo, M. & Setiawan, W. (2004). Penuntun Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Dirgayusa, I. G. N. P., Faiqoh, E. (2019). Keanekaragaman dan Biomassa Ikan Karang Serta Keterkaitannya dengan Tutupan Karang Hidup di Perairan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Journal of Marine and Aquatic Science (JMAS), 5(2), 164-176.

Djamali, A., & Darsono, P. (2005). Petunjuk Teknis Lapangan untuk Penelitian Ikan Karang di Ekosistem Terumbu Karang. Materi Kursus. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-LIPI. Jakarta.

English, S., Wilkinson, C., & Baker, V. (1997). Survei Manual for Tropical Marine Resources. Towns Ville, Australia: Australian Institute of Marine Science.

Gustilah, L., Solichin, A., & Purnomo, P. W. (2018). Hubungan Tutupan Bentuk Karang dengan Kelimpahan Ikan Karang di Perairan Pulau Cilik Taman Nasional Karimunjawa. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 7(3), 246-252.

Krebs, C. J. (1989). Ecological Methodology. NewYork: NY Harper and Row Publishers inc.

Kusnanto. (2015). Struktur Komunitas Ikan Pada Ekosistem Terumbu Buatan Di Perairan Pulau Karya dan Pulau Harapan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Dki Jakarta. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Diakses dari https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/74940.

Nybakken, J. W. (1993). Biologi Laut; Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta, PT. Gramedia.

Odum, E. P. (1993). Dasar-dasar Ekologi. Catatan ke-3. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Purba, N. P. (2013). Pengantar Ilmu Kelautan. Jatinagor: Bandung, Universitas Padjajaran.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Rani, C., Burhanuddin, A. I., & Atjo, A. A. (2011). Sebaran dan Keanekaragaman Ikan Karang di Pulau Barrangloppo: Kaitannnya dengan Kondisi dan Kompleksitas Habitat. Prosiding UGM 2011 jilid 2. Dikses dari http://:repository.unhas.ac.id:123456789/55.

Rudi, E dan S. Yusri. (2013). Metode Monitoring Terumbu Karang. Jakarta, Yayasan Terumbu Karang Indonesia.

Sarwono. (2006). Teori Analisis Korelasi Mengenal Analisis Korelasi. Diakses dari www.Jonathansarwono.info/korelasi.htm-94k- diakses pada Desember 2021.

Sutono, D. (2016). Hubungan Persentase Tutupan Karang Hidup dan Kelimpahan Ikan Karang di Perairan Taman Nasional Laut Wakatobi. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 6(2), 169-176.

Utomo, S. P. R., Supriharyono., & Ain, C. (2013). Keanekaragaman Jenis Ikan Karang di Daerah Rataan dan Tubir pada Ekosistem Terumbu Karang di Legon Boyo, Taman Nasional Karimunjawa, Jepara. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 2(4), 81-90.

Zamani, N. P, Madduppa H. (2011). A Standard Criterion for Assessing the Health of Coral Reefs: Implication for Management and Conservation. Journal of Indonesia Coral Reefs, 1(2), 137-146.

Downloads

Published

2022-12-01

Issue

Section

Articles