KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN DESA MANDIRI KABUPATEN PULAU MOROTAI
DOI :
https://doi.org/10.15578/aj.v3i1.10513Mots-clés :
Komposisi, keanekaragaman jenis, lamun, perairan desa MandiriRésumé
Lamun merupakan salah-satu ekosistem yang sangat tinggi produktivitas organiknya, lamun juga memiliki manfaat secara ekonomi dan ekologis. Fungsi lamun tidak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia terutama penangkapan ikan, pengerukan, penambangan pasir dan sebagainya. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dirasa masih kurang untuk dijadikan sebagai rujukan untuk menggambarkan potensi sumberdaya lamun di Kabupaten Pulau Morotai. Olehnya itu perlu kiranya dilakukan penelitian ini sebagai tambahan informasi dan data potensi bagi pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut terutama ekosistem lamun secara berkelanjutan terutama dari aspek ekologinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan keanekaragaman jenis lamun. Penelitian ini dilaksanakan di perairan desa Mandiri Kabupaten Pulau Morotai dimulai pada bulan Januari-Februari 2021 menggunakan metode transek kuadrat. Analisis data indeks ekologi meliputi; komposisi jenis dan indeks keanekareagaman (Shannon-Winner). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis lamun paling tinggi persentasenya yaitu Cymodocea rotundata ditemukan disemua stasiun yaitu stasiun I sebesar (94%), stasiun II (84 %) dan stasiun III (72%). Indeks keanekaragaman jenis (H') lamun yang ditemukan pada stasiun I yaitu (0,22), stasiun II (0,58), dan stasiun III yaitu (0,59) menunjukan bahwa nilai indeks keanekaragaman lamun di lokasi penelitian termasuk kategori rendah.Références
Alican I. 2018. Identifikasi Jenis Lamun di Perairan Pulau Rao Kabupaten Pulau Morotai. Laporan Praktek Kerja Lapang. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pasifik Morotai. Morotai.
Anwar C., Muzahar dan Karlina, I. 2015. Bioekologi Bulu Babi (Echinoidea) di Perairan Laut Teluk Dalam Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Arifin, (2001). Ekosistem Padang Lamun. Buku Ajar. Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar.
COREMAP-CTI. (2007). Cymodecea rotundata. 12. 13. Ekosistem Padang Lamun di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas.
Dahuri, R., Jacub R., Sapta. P. G., dan Stepu. M.J. (2008). Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
English SWC, Baker V. (1997). Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Sience. Townsville. Germany.
Jamil, M. R., Kasim M., dan Irawati N. (2016). Laju penempelan Makroepifit pada talus Rumpt Laut di Perairan Pantai Lakeba Kota Bau-bau. Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan, 1(3): 333-341.
Jesajas D., Krisson E., Raunsay.,Aisoi L.E dan Dimara L. (2016). Analisis Jenis-Jenis Lamun (Seagrass) di Perairan Kampung Yendidori Kabupaten Biak Numfor. Novae Guinea Jurnal Biologi ISSN.2086-1516 Vol.8 (2). Hal 1-8
Kiswara, W. (2004), Kondisi padang lamun (Seagrass) di Perairan Teluk Banten. Lembaga Penelitian Oseonografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta
Krebs, C.J. (1994). Ecology The Eksperimental Analysis Of Distribution And Abudance. Third edition. Haeper and Row Publisher. New york.
McKenzie, L. J. (2008). Seagrass Educator Handbook. Seagrass-Watch, Queensland, Australia.
Nonji, A. (2005). Laut Nusantara. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Nurafni, dan Nur. (2018). Identifikasi Senyawa Bioaktif Jenis-jenis Lamun di Perairan Pulau Morotai. Seminar Nasional Biologi Kepulauan I. Universitas Khairun Ternate.
Nurafni, dan Nur. (2017). Struktur Komunitas Lamun di Perairan Pulau Dodola Kabupaten Pulau Morotai. Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil II.. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate.
Odum, E. P. (1990). Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada Press.
Philips dan Menez (1988) Philips, R.C., E, G. Menez. (1988). Seagrass in: Smithsonian contribusion to the. Marine Science no. 34.
Ramili Y, Madduppa H.H, dan Bengen D.G. (2018). Struktur dan Asosiasi Jenis Lamun di Perairan pulau Hiri, Ternate, Maitara dan Tidore Maluku Utara. Jurnal Ilmu Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3. ISSN. 2087-9423. Hal 651-665
Setiawati, Maryam Alifah, Asep Z. M, Mohamad N. B. Irawan, dan Ruly Budiono. (2018). Studi Morfologi Beberapa Jenis Lamun di Pantai Timur Dan Pantai Barat, Cagar Alam Pangandaran.
Soegianto, A. (1994). Ekologi Kuantitatif. Penerbit Usaha Nasional.Surabaya.
Souhoka, J. (2013). Kondisi dan Keanekaragaman Karang Batu di Perairan Pulau. Gangga Sulawaesi Utara. Jurnal Ilmu kelautan, 18 (4), 213 – 224.
Suherlan, Dedy Oetama, dan Hasnia Arami. (2016). Keragaman jenis lamun di Perairan Pantai Waha Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi
Wahab, I, Madduppa H.H, Kawaroe M, dan Nurafni. (2019). Analisis Kepadatan lamun Makrozoobentos pada Fase Bulan Berbeda di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Jakarta. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 10 No.1. ISSN: 2087-4871
Wijayanti, H.M, (2007). Kajian Kualitas Perairan di Pantai Kota Bandar Lampung Berdasarkan Komunitas Hewan Makrobenthos. Tesis Program Magister Manajemen Sumberdaya Pantai. Universitas Diponegoro Semarang. 89 hal.
Téléchargements
Publiée
Numéro
Rubrique
Licence
The authors who publish this journal agree to the following terms:
a. The author retains the copyright and grants the journal the rights of the first publication with the work simultaneously licensed under  the Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International License, which allows others to share the work with acknowledgment of the author's work and the original publication in this journal.
b. Authors may enter separate additional contractual arrangements for non-exclusive distribution of the published version of the journal (e.g., submit to an institutional repository or publish in a book), with acknowledgment of initial publication in this journal
c. Authors are allowed and encouraged to post their work online (e.g. in an institutional repository or on their website) before and during the submission process, as this may lead to productive exchanges, as well as citations of previously published and older works.