Hutan Mangrove Hoat Tamgil untuk Ekowisata di Desa Rumadian Kecamatan Manyeuw - Kabupaten Maluku Tenggara
DOI:
https://doi.org/10.15578/jkn.v18i2.11234Keywords:
Kesesuaian Ekowisata, Mangrove, Hoat Tamngil, Sistem Informasi GeografiAbstract
Rumadian merupakan salah satu desa di Kabupaten Maluku Tenggara yang memiliki potensi hutan mangrove. Hutan mangrove yang terletak di sepanjang Teluk Tamngil atau dikenal dalam bahasa daerah adalah Hoat Tamngil. Luas hutan mangrove Hoat Tamngil sekitar 45 ha. Saat ini kawasan Hoat Tamngil telah dimanfaatkan untuk kegiatan ekowisata mangrove. Pemanfaatan kawasan mangrove untuk kegiatan ekowisata belum maksimal, hanya berupa branding ekowisata dan minimnya pengetahuan tentang pengelolaan kawasan mangrove yang sesuai untuk kegiatan ekowisata. Hingga saat ini, belum ada pengembangan di kawasan ekowisata mangrove. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2021 hingga Agustus 2021 di kawasan ekowisata mangrove desa Rumadian, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Indeks Kesesuaian Wisata mangrove (IKW). Penelitian ini menggunakan metode analisis kesesuaian wisata dengan pendekatan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori pengamatan 1 sampai 5 termasuk dalam sesuai untuk kegiatan ekowisata. Nilai IKW masing-masing stasiun adalah 2,1 2.1, 2.22, 2,22 dan 2,85. Stasiun 5 merupakan kawasan yang sangat sesuai untuk kegiatan ekowisata mangrove.References
English, S.,Wilkinson, C., & Baker, V. (1994). Survei Manual for Tropical Marine Resources. Townsville (AU): Australian Institute of Marine Science.
Enora, E. F., & Dwiridal, Letmi. (2020). Analisis Kondisi Pasang Surut Dengan Waktu Kejadian Gempa Bumi Sumatera Barat. Journal: Pillar of Physics, Vol. 13, 26-33 26
Fadli, S., Chandra, J. K., Pi, S., Si, M., & Yandri, F. (2013). Studi Zonasi Mangrove di Muara Sungai Kawal Kelurahan Kawal Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan.
Irwanto. (2006). Keanekaragaman fauna pada habitat mangrove. Yogyakarta: Kanisius.
Kementerian Lingkungan Hidup. (2004). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove. Jakarta : Kementerian Lingkungan Hidup.
Kerubun, A., Renjaan, M., & Hungan. M. (2022). Pengelolaan Potensi Desa Wisata Rumadian Kecamatan Manyeuw Melalui Keberlanjutan. Journal of Tourism Destination and Attraction, 10(2), 117-132. https://doi.org/10.35814/tourism.v10i2.3338
Malik, A., Sideng, U & Rahman, A. (2018). Brief Policy: Strategi dan Pengembangan kawasan ekowisata mangrove di Kelurahan Bebanga Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Laporan Akhir Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi/PTUPT]. Universitas Negeri Makassar, Makassar, South Sulawesi, pp. 18-44.
Mas’ud, R. M., Yulianda, F & Yulianto, G. (2020). Kesesuaian Dan Daya Dukung Ekosistem Mangrove Untuk Pengembangan Ekowisata Di Pulau Pannikiang, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 2(3), 673-686 . http://doi.org/10.29244/jitkt.v12i3.32847
Nybakken, J. W. (1992). Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama
Pratama, R. A. (2017). Pengembangan Kawasan Konservasi Mangrove Berbasis Valuasi Ekonomi Di Wonorejo Surabaya. Tugas Akhir. ITS Surabaya, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Renjaan, M., & Renjaan, E. A. (2022). Tingkat Kesesuaian Pantai Ngursarnadan Kabupaten Maluku Tenggara Terhadap Aktivitas Rekreasi Pantai. Jurnal Lemuru, 4(3), 215-30.
Saefurahman, G. (2008). Distribusi Kerapatan dan Perubahan Luas Vegetasi Mangrove Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu Menggunakan Citra Formosat 2 dan Landsat 7/ETM+. (Hasil Penelitian, Lembaga Penelitian Indonesia).
Salim. (2004). Perkembangan ekowisata: Sketsa Teori Dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Tiara Wacana
Sari, A. N., Kardhinata, E. H., & A. Hanifah, M..Z.N. (2017). Analisis Substrat di Ekosistem Kampung Nipah Ohoi Sei Nagalawan Serdang Bedagai Sumatera Utara. Jurnal Biologi Lingkungan, Industri, Kesehatan, 3(2), 163-173. DOI: 10.31289/biolink.v3i2.847
Setiawan, H. (2013). Status Ekologi Hutan Mangrove Pada Berbagai Tingkat Ketebalan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 2(2), 104–120. https://doi.org/10.18330/jwallacea.2013.vol2iss2pp104-120
Sukandar., Dewi, C. S. U., & Handayani, M. (2017). Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Lingkungan Bagi Pengembangan Wisata Bahari di Pulau Bawean Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur. Jurnal DEPIK, 6(3), 205-213. https://doi.org/10.13170/depik.6.3.7024
Susi, S., Adi, W., & Sari, S. P. (2018). Potensi Kesesuaian Mangrove Sebagai Daerah Ekowisata Di Dusun Tanjung Tedung Sungai Selan Bangka Tengah. Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan, 12(1), 65–73. https://doi.org/10.33019/akuatik.v12i1.693
World Tourism Organization. (2010). Tourism and biodiversity – achieving common goals towards sustainability. UNWTO, Madrid, Spain, pp. 1-19.
Wantesan, A. S. (2013). Kondisi kualitas perairan dan substrat dasar sebagai faktor pendukung aktivitas pertumbuhan man grove di pantai pesisir Desa Basaan I, Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal Ilmiah Platax, 1(4), 204-209.
Yulianda, F. (2007). Ekowisata Bahari sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumber daya Pesisir Berbasis Konservasi. (Makalah, Institute Pertanian Bogor)
Yulianda, F. (2019). Ekowisata perairan: suatu konsep kesesuaian dan daya dukung wisata bahari dan wisata air tawar. PT IPB Press.
Downloads
Published
Issue
Section
License
The author sends articles to Jurnal Kelautan Nsional holding the copyright, managed openly provided that:
Attribution — You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
ShareAlike — If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original.
Jurnal Kelautan Nasional is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
